Propinsi Kalimantan Tengah : Sejarah Terbentuknya

Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah merupakan salah satu propinsi di wilayah Kesatuan Republik Indonesia. Terbentuknya Propinsi Kalimantan Tengah tidak terlepas dari terbentuknya Propinsi Kalimantan Selatan.  Propinsi ini terbentuk berdasarkan UU No.21 Tahun 1957 terntang terbentuknya Propinsi Kalimantan Tengah, dengan wilayah sebagian besar daerah sebelah barat dan utara wilayah Kalimantan Selatan. 

Pada awalnya, Kalteng masuk dalam wilayah Kesultanan Banjar, penerus Negara Dipa. Pada abad ke-16, saat Raja Maruhum Panambahan berkuasa dan beristrikan seorang puteri Dayak anak Patih Rumbih dari Biaju, Nyai Siti Biang Lawai. 

Propinsi Kalimantan Tengah

Selanjutnya, Sultan Sulaiman, menurut Traktat 1 Januari 1817 menyerahkan Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada Hindia Belanda. Dan ditegaskan kembali oleh Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar pada 4 Mei 1826.  Belanda mulai menempatkan Asisten Residen di Samarinda untuk wilayah Borneo Timur bernama H. Von Dewall. Pada tahun 1846

Sebelum abad 14, daerah Kalteng adalah daerah yang murni belum ada pendatang dari daerah lain. Alat transportasi satu-satunya saat itu adalah perahu. Baru pada  1350, Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Dan dapat dikuasai Kerajaan Majapahit pada tahun 1365. 

Selanjutnya, tahun 1520, Agama Islam mulai berkembang di Kerajaan Kota Waringin sewaktu daerah pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kesultanan Demak. Selanjutnya, Kesultanan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin pada tahun 1615, yang meliputi daerah pantai Kalteng, meliputi : Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah lainnya tetap bebas, dan dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman. 

Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar yang dipimpin oleh seorang perempuan Dayak bernama Nyai Undang.  Dalam peperangan tersebut, Nyai Undang didukung para satria gagah perkasa, seperti Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Para satria inilah akhirnya menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah. 

Tahun 1787, hampir seluruh daerah di Kalimantan Tengah menjadi wilayah kekuasaan VOC, sebagai dampak dari perjanjian Sultan Banjar dan VOC.  Selanjutnya didirikan pelabuhan di Sampit oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1 Mei 1859. Dan Belanda mulai mengangkat masyarakat pribumi sebagai petugas pemerintahan sejak 1917, tapi tetap dalam pengawasan langsung Hindia Belanda.

Propinsi Kalimantan Tengah

Belanda mulai mengadakan ekspedisi ke pedalaman Kalimantan pada abad ke-19 untuk  memperkuat posisinya.  Namun, masyarakat Kalteng, melawan dengan sengit. Perlawanan sengit terhenti setelah gugurnya Sultan Muhammad Seman pada tahun 1905. Sultan Mohamad Seman dimakamkan sebagai kusuma bangsa di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu.

Berdasarkan UU No.21 Tahun 1957 terntang terbentuknya Propinsi Kalteng, dengan wilayah sebagian besar daerah sebelah barat dan utara wilayah Kalimantan Selatan. Gubernur pertama Propinsi Kalimantan Tengah adalah  RTA Milono sebagai tempat yang menjadi residen dari Departemen Dalam Negeri. 

Berdasarkan UU darurat Nomor 10 tahun 1957, tanggal 23 mei 1957 yang berisi tentang pembentukan daerah Swantantra Kalimantan Tengan dan beberapa provinsi lainnya di Kalimantan.  Selanjutnya tanggal tersebut dijadikan hari lahirnya propinsi baru dan waktunya bersamaan dengan selesainya masa jabatan Gubernur RTA Milono. Dua bulan setelah di bentuknya Propinsi Kalimantan Tengah, maka ditetapkan Palangka Raya sebagai ibukota propinsi.  Dan pemancangan tiang pertama pembangunan propinsi ini diresmikan pada 17 Juli 1957 oleh Presiden Soekarno. 

Baca juga terbentuknya Propinsi Kalsel, Kaltim dan Kalbar.

Tinggalkan Balasan