Propinsi Kalimantan Timur : Sejarah Terbentuknya

Kalimantan Timur

Kalimantan Timur (Kaltim) adalah salah satu propinsi di wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia. Kaltim memiliki sejarahnya sendiri. Kerajaan hindu tertua ada di Kaltim, yaitu Kerajaan Kutai.  Setelah kerajaan Kutai mulai pudar, berdiri juga Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Pasir dan Kesultanan Bulungan.

Wilayah Kaltim seperti Pasir, Kutai, Berau dan Bulungan merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Banjar.  Hikayat Banjar menyebutkan bahwa pada abad ke-17 Sultan Makassar meminjam tanah untuk berdagang kepada Sultan Mustain dari Banjar, meliputi wilayah timur dan tenggara kalimantan.  Sehingga suku asal Sulawesi mulai berdatangan ke Kalimantan. Namun,  Sultan Tahmidullah II pada 13 Agustus 1787 dari Banjar menyerahkan Kaltim kepada perusahaan VOC Belanda dan Kesultanan Banjar sendiri dengan wilayahnya yang tersisa menjadi daerah protektorat VOC Belanda.

Selanjutnya, Sultan Sulaiman, menurut Traktat 1 Januari 1817 menyerahkan Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada Hindia Belanda. Dan ditegaskan kembali oleh Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar pada 4 Mei 1826.  Belanda mulai menempatkan Asisten Residen di Samarinda untuk wilayah Borneo Timur bernama H. Von Dewall. Pada tahun 1846.

Kalimantan Timur

Sebelum menjadi propinsi, Kalimantan Timur merupakan salah satu Karesidenan dari Propinsi Kalimantan. Menyikapi adanya aspirasi rakyat, Propinsi Kalimantan dimekarkan menjadi tiga propinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956, Gubernur pertama Kalimantan Timur adalah APT Pranoto.  Propinsi Kaltim saat itu terdiri dari empat kabupaten, yaitu Kabupaten Kutai, Kabupaten Berau, Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Pasir serta dua kotapraja, yaitu Kota Praja Samarinda dan Kota Praja Balikpapan.

Berdasarkan PP Nomor 47 tahun 1981, dibentuk Kota Administratif Bontang di wilayah Kabupaten Kutai dan PP Nomor 20 tahun 1989 dibentuk Kota Madya Tarakan di wilayah Kabupaten Bulungan. Selanjutnya, sesuai ketentuan UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah, dibentuk 2 Kota dan 4 kabupaten, antara lain: Kabupaten Kutai Barat beribukota di Sendawar, Kabupaten Kutai Timur beribukota di Sangatta, Kabupaten Malinau beribukota di Malinau, Kabupaten Nunukan, beribukota di Nunukan, Kota Bontang (kota administratif Bontang kotamadya).

Selanjutnya, Berdasarkan PP Nomor 8 tahun 2002, Kabupaten Pasir dimekarkan menjadi Kabupaten Pasir dan Penajam Paser Utara. Tanggal 17 Juli 2007, DPR RI sepakat menyetujui berdirinya Tana Tidung sebagai kabupaten baru di Kalimantan Timur, sehingga jumlah keseluruhan Kabupaten/Kota di Kaltim menjadi 14 wilayah.  Pada tahun 2007, perubahan nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser sesuai PP No. 49 Tahun 2007.

Pada tahun 2012, berdasarkan UU No.20 Tahun 2012, Propinsi Kaltim dimekarkan menjadi 2, yaitu Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.  Sehingga Kaltim menjadi terdiri dari 9 kota/kabuapten. Dan pada tahun 2013 Kalimantan Timur genap terdiri dari 10 Kota/Kabupaten dengan terbentuknya Kabupaten Mahakam Ulu.

Baca juga artikel lainnya disini.

Tinggalkan Balasan