Propinsi Kalimantan Barat : Sejarah Terbentuknya

Propinsi Kalimantan Barat

Kalimantan Barat merupakan salah satu propinsi di Wilayah Kesatuan Republik Indonesia. Dibentuk berdasarkan undang-undang Nomor 25 tahun 1956, Kalimantan Barat mendapat status sebagai daerah Propinsi Otonom dengan ibukota Pontianak. Kedudukan sebagai daerah otonom ini berlaku sejak tanggal 1 Januari 1957. Selanjutnya tanggal ini dianggap sebagai hari jadi Propinsi Kalimantan Barat. 

Namun sejak tahun 2002, Hari Jadi Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat diperingati setiap tanggal 28 Januari.

Propinsi Kalimantan Barat

Pada awalnya, masyarakat Kalimantan Barat banyak menghuni di kawasan pantai dan pinggiran Sungai Kapuas.  Dan sudah menjalin hubungan dagang dengan India, Cina dan Timur Tengah sejak abad kelima.  Kebanyakan masyarakat yang hidup dikawasan pantai adalah dari rumpun Melayu.

Menurut sejarah, ada 13 kerajaan yang pernah ada di Kalimantan Barat, antara lain Kerajaan Tanjungpura, Sukadana, Simpang, Mempawah, Sambas, Landah, Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kubu, dan Pontianak. Kerajaan-kerajaan tersebut mulai muncul sejak kedatangan Prabu Jaya, anak Brawijaya dari Pulau Jawa.

Pada abad ke 17, Belanda dan Inggris datang ke Kalimantan untuk menguasai perdagangan. Karena seperti kita tahu bersama, bahwa kalimantan banyak menghasilkan rempah. Kerajaan Bugis juga berusaha menguasai perdagangan di Kalimantan, dan kemudian mendirikan kerajaan di Mempawah. Juga berdiri Kesultanan Pontianak, yang mulai menggabungkan diri dengan Republik Indonesia pada masa pemerintahan Siltan Hamid.

Semakin lama, Belanda dan Inggris semakin memaksakan monopoli dagang diberbagai kesultanan.  Agama Kristen juga disebarkan oleh mereka. Untuk memuluskan monopolinya, mereka menghancurkan berbagai perlawanan suku dan kesultanan. Akhirnya daerah pedalaman Kalimantan dikuasai Belanda. Hingga tahun 1930, seluruh Kalimantan dikuasai Belanda, kecuali wilayah Kalimantan Utara yang dikuasai Inggris.

Pada abad ke-20 inilah bermunculan gerakan kebangsaan yang merupakan cabang pergerakan dari Jawa. Rakyat yang merasa tertekan membentuk wadah-wadah perjuangan. Karena saat itu, hubungan Kalimantan-Jawa makin membaik.

Syarikat Islam, merupakan organisasi pertama yang berdiri tahun 1914 di Kalimantan Barat. Organisasi ini berkembang cepat karena didukung oleh para raja dan bangsawan. Tahun 1922, lahir organisasi baru beraliran komunis bernama Syarikat Rakyat yang dipimpin oleh Gusti Sulung Lelanang (Mantan aktivis Syarikat Islam).

Selanjutnya muncul organisasi islam bernama Muhammadiyah yang didirikan oleh dua orang guru agama berasal dari Sumatera Barat.  Dan sejak 1932, organisasi ini berkembang cepat dan mulai membuka cabang di Pontianak, Sungai Bakau Kecil, Singkawang, dan Sambas. 

Propinsi Kalimantan Barat

Partai Indonesia Raya (Parindra) pada tahun 1936 membuka cabang di Kalimantan Barat. Selanjutnya membuka cabang di Pontianak, Ngabang, Sambas, dan Singkawang. Organisasi politik lokal juga muncul, seperti Persatuan anak Borneo. Namun organisasi ini tidak berperan dalam kesadaran kebangsaan karena  berada di bawah pengaruh Belanda.

Begitu Belanda kalah dari Jepang pada tahun 1942, Kalimantan yang sebelumnya dikuasai Belanda, langsung diambil alih oleh Jepang. Jepang melarang organisasi politik dan melakukan pemaksaan serta penindasan terhadap rakyat. Kegiatan rakyat dipusatkan untuk tujuan perang Jepang. Kekuasaan Jepang berakhir setelah menyerah kepada Sekutu.

Setelah Jepang menyerah, Indonesia mulai memproklamirkan kemerdekaan.  Hal ini tersebar sampai Kalimantan Barat. Namun, upaya mewujudkan pemerintahan Republik Indonesia di Kalimantan Barat mendapat kendala dari Belanda. Karena ternyata Belanda kembali menguasai daerah ini. 

Belanda menangkap para pejuang dan akhirnya para pejuang menyingkir ke pedalaman. Dan membentuk satuan-satuan semi militer dengan beranggotakan bekas Heiho dan masyarakat. Perjuangan melawan Belanda semakin sengit ketika Belanda bermaksud mendirikan negara Kalimantan. Lewat Konferensi Meja Bundar (KMB), Belanda menjadikan Kalimantan Barat sebagai negara bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). 

RIS tidak diterima rakyat dan pada 17 Agustus 1950 dibubarkan. Setelah pembubaran RIS, Kalimantan kembali menjadi bagian dari Republik Indonesia. Dr. M. Murjani diangkat bebagai gubernur Propinsi Kalimantan.  Pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi sebuah Propinsi di Indonesia.

Artikel lainnya, yuk baca disini

Tinggalkan Balasan