Propinsi Maluku : Sejarah Terbentuknya

Propinsi Maluku

Propinsi Maluku.  Maluku merupakan salah satu propinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan termasuk salah satu yang tertua dalam sejarah Indonesia merdeka.  Propinsi ini dikenal dengan kawasan Seribu Pulau dengan keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. 

Propinsi Maluku. Diyakini, kata maluku berasal dari dari kata Al Mulk berarti Tanah Raja-Raja.  Karena dulunya, kepulauan Maluku ini  dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam. Propinsi Maluku dibentuk bersamaan dengan propinsi Kalimantan, Jatim, Jateng, Jabar, Sunda Kecil dan Sumatera, yaitu dua hari setelah kemerdekaan Indonesia.

Propinsi Maluku

Dan, 12 tahun kemudian, menjadi Propinsi Maluku secara resmi berdasarkan UU Darurat Nomor 22 tahun 1957 dan selanjutnya diganti dengan UU Nomor 20 tahun 1958. Maluku terkenal kaya dengan rempah-rempah. Sehingga banyak pelaut Cina era Dinasti Tang, yaitu awal abad ketujuh berkunjung dan mereka merahasiakan keberadaan pulau ini.  Selanjutnya abad kesembilan pedagang arab berhasil menemukan pulau ini setelah mengarungi Samudera Hindia.  Melalui pedagang dari Arab inilah, Agama Islam masuk ke Kepulauan Maluku melalui  pelabuhan Aceh, Malaka dan Gresik. Karena Maluku termasuk dalam wilayah Kerajaan Sriwijaya. 

Yuk baca juga: Kalimantan Utara

Abad ke-14 merupakan masa perdagangan rempah-rempah. Dimana saat itu, Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara.  Dan para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.  Pada masa Dinasti Ming (1368-1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang hijau dan dipenuhi pohon cengkih. Marco Polo juga menggambarkan perdagangan cengkih di Maluku dalam kunjungannya di Sumatra.

Dua agama utama yang ada di Maluku yaitu agama Islam Sunni sebanyak 50,8% dan agama Kristen, baik Protestan ataupun Katolik, sebanyak 48,4%.  Tercatat dalam sejarah adanya konflik atau tragedi kemanusiaan dan konflik horizontal antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon. Setelah tahun 2002, barulah Maluku menjadi propinsi yang ramah dan damai di Indonesia. Dan karenanya mendapat penghargaan dunia berupa Gong Perdamaian Dunia yang diletakan di ACC (Ambon City Centre).

Pada tahun 1999 ketika konflik atau tragedi krisis kemanusiaan dan konflik horizontal antara Islam dan Kristen yang lebih dikenal sebagai Tragedi Ambon melanda Maluku, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan manjadi Propinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Karena Kota Sofifi dinilai belum siap menjadi ibukota maka pusat pemerintahan sementara dipindahkan di Kota Ternate yang berada di Pulau Ternate sampai tahun 2009.

Tinggalkan Balasan