Propinsi Sulawesi Tengah : Sejarah Terbentuknya

Propinsi Sulawesi Tengah

Propinsi Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah merupakan salah satu propinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sama dengan Sulawesi Utara, Sebelum menjadi propinsi, Sulawesi Tengah adalah sebuah karesidenan dari Propinsi Sulawesi Utara-Tengah. Propinsi ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomer 13 tahun 1964 dan beribukota di Palu.

Penduduk asli Propinsi Sulawesi Tengah adalah campuran bangsa Wedoid dan negroid. Yang akhirnya berkembang menjadi suku baru setelah datangnya bangsa Proto-Melayu dan Deutro-Melayu. Selanjutnya banyak kaum migran yang datang dan menetap di wilayah Sulawesi Tengah. Pendatang baru ini berasimilasi dengan penduduk asli sehingga menghasilkan kebudayaan baru. Penduduk asli Propinsi Sulawesi Tengah terdiri atas 19 kelompok etnis atau suku, yaitu:

  1. Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi dan kota Palu.
  2. Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Sigi.
  3. Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso.
  4. Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso.
  5. Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali.
  6. Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali.
  7. Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai.
  8. Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai.
  9. Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai.
  10. Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai.
  11. Etnis Bare’e berdiam di Kabupaten Poso,Kabupaten Tojo Una-Una.
  12. Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan.
  13. Etnis Buol mendiami kabupaten Buol.
  14. Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli.
  15. Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong.
  16. Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli.
  17. Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli.
  18. Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli.
  19. Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala.

Propinsi Sulawesi Tengah

Selain itu, terdapat juga beberapa suku yang hidup di daerah pegunungan seperti suku Da’a di Donggala dan Sigi, suku Wana di Morowali, suku Seasea dan suku Taa di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang berbeda antar suku, tapi Bahasa pemersatu disana adalah Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Ada juga suku pendatang lainnya sebagai transmigran, seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Mandar, Bugis, Makasar dan Toraja serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah berasimilasi.

Kerajaan di Sulawesi Tengah sudah ada sejak abad ke-13, seperti Kerajaan Banawa, Kerajaan Tawaeli, Kerajaan Sigi, Kerajaan Bangga, dan Kerajaan Banggai. Dan Islam mulai masuk sebagai pengaruh dari kerajaan Bone dan Wajo dari Sulawesi Selatan pada abad ke-16.

Baca juga: Propinsi Gorontalo

Kekuasaan kolonial Belanda mulai masuk ke Sulawesi Tengah pada abad ke-17.  Pada abad ke-18, kolonial belanda mulai meningkatkan tekanan kepada raja-raja di Sulteng dengan mengundang mereka ke Manado & Gorontalo untuk mengucapkan sumpah setia kepada VOC. Dengan demikian, VOC telah menguasai kerajaan-kerajaan di Sulteng.

Selanjutnya Belanda membuat perjanjian yang bernama lang contract dan korte verklaring untuk memgikat raja-raja di Sulteng pada abad ke-20.  Dengan adanya perjanjian ini, maka Belanda telah sepenuhnya menguasai Sulteng.  Bagi kerajaan yang membangkang, Belanda menumpas dengan kekerasan senjata. Banyak pergerakan perlawanan masyarakat Sulteng terhadap Belanda. Dan mencapai puncaknya pada 25 Januari 1942, yang dipimpin oleh ID Awuy dengan menangkap tokoh colonial Controleur Toli-Toli De Hoof, Bestuur Asisten Residen Matata Daeng Masese, dan Controleur Buol de Vries. Dengan ditangkapnya tokoh kolonial, kekuasaan Belanda berakhir. Dan untuk pertama kalinya, sang merah putih dikibarkan di tanah Toli-Toli pada 1 Pebruari 1942. 

Tinggalkan Balasan