Propinsi Sumatera Barat : Sejarah Terbentuknya

Propinsi Sumatera Barat

Propinsi Sumatera Barat : Sejarah Terbentuknya

Propinsi Sumatera Barat.  Sumatera Barat merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang mayoritas beragama Islam.  Terletak disepanjang pesisir barat pulau Sumatera, dan penduduk asli bernama suku Minang. Propinsi Sumatera Barat dengan ibukotanya Padang yang terkenal dengan Jam Gadang-nya. Pada tahun 2016, jumlah penduduknya sebesar 5.259.528 Jiwa (sumber BPS Sumatera Barat).  Sejarah panjang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Minangkabau ini.

Propinsi Sumatera Barat.  Seorang tokoh terkenal di Minangkabau yang bernama Adityawarman. Seorang tokoh yang tidak mau disebut raja ini, pernah memerintah di daerah pusat kerajaan Minangkabau, yaitu Pagaruyung.  Dia seorang raja yang sangat berjasa bagi Minangkabau juga yang pertama memperkenalkan sistem kerajaan di Sumatera Barat. 

Pada pertengahan abad ketujuh belas, awal pemerintahan Adityawarman, Minangkabau mulai terbuka dengan dunia luar, khususnya Aceh.  Seperti kita tahu, Aceh adalah serambi mekah pada masa itu.  Melalui kegiatan ekonomi dengan Aceh, berkembanglah nilai-nilai Islam bagi masyarakat Minangkabau.  Nilai-nilai Islam  mulau mendominasi, yang sebelumnya masyarakat Minangkabau beragama Budha. 

Propinsi Sumatera Barat.  Pesisir pantai barat Sumatera, yang semula dikuasai kerajaan Pagaruyung, sebagian beralih menjadi kekuasaan Kesultanan Aceh. 

Asal Usul Nama Minangkabau

Minangkabau merupakan salah satu desa di Kecamatan Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat. Pada awalnya, desa tersebut merupakah sebuah kawasan tanah lapang. Sampai akhirnya terdengar isu bahwa Kerajaan Pagaruyung akan di serang oleh kerajaan Majapahit dari Jawa. Maka atas usul kedua belah pihak diadakanlah adu kerbau di tanah lapang tersebut, sebagai wujud pertempuran antara tentara kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit.  Alhasil, kerbau Minang berhasil menjadi pemenang, dan dari situlah muncul istilah manang kabau dan dijadikan nama Nagari atau desa tersebut.

Sebagai wujud untuk mengenang sejarah atas peristiwa adu kerbau tersebut, masyarakat Pagaruyung mendirikan rumah loteng dan atapnya dibentuk seperti tanduk kerbau. Rumah tersebut didirikan di perbatasan tempat bertemunya tentara Majapahit dengan Pagaruyung. 

Dalam perkembangannya, Propinsi Sumatera Barat semakin terbuka dengan dunia luar, sehingga kebudayaan semakin berkembang. Jumlah penduduk berkembang dan menyebar ke selatan dan barat Sumatera.

Propinsi Sumatera Barat  

Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di Sumatera Barat dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.  Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan Belanda (sumber : https://id.wikipedia.org).

Jatuhnya Karajaan Pagaruyung serta terlibatnya Belanda di Perang Paderi, menjadikan pedalaman Minangkabau sebagai bagian dari Pax Nederlandica oleh pemerintah Hindia Belanda. Selanjutnya daerah Minangkabau di bagi menjadi Residentie Padangsche Bovenlanden dan Benedenlanden.  Pada zaman VOC, wilayah pesisir barat Sumatera disebut Hoofdcomptoir van Sumatra’s westkust. 

Pada abad ke-18, Politik dan ekonomi semakin memperngaruhi Provinsi Sumatera Barat. Dan akhirnya kawasan ini mencakup daerah pantai barat Sumatera yang secara administratif merupakan Pemerintahan Sumatra’s Westkust, ditambah lagi dengan digabungkannya wilayah Singkil dan Tapanuli.

Pada tahun 1905, akhirnya wilayah Singkil digabung dengan Residen Aceh dan Tapanuli membentuk residen sendiri, yaitu Residen Tapanuli.  Sembilan tahun kemudian, yaitu pada 1914,  pemerintahan Sumatera’s Westkust statusnya diubah menjadi Residen Sumatera’s Westkust.  Setelah itu, Mentawai menjadi bagian dari Residen Sumatera. Dan Kawasan Kerinci pun dimasukkan ke bagian wilayah Residen Sumatera pada tahun 1935.

Pada jaman pendudukan Jepang, Residen Sumatera’s Westkust berganti nama menjadi Sumatora Nishi Kaigan Shu. Selanjutnya, wilayah Kampar dikeluarkan dari Sumatora Nishi Kaigan Shu dan digabung ke wilayah Rhio Shu karena alasan keamanan.

Propinsi Sumatera Barat

Awal Indonesia merdeka, tahun 1945, Daerah Sumatera Barat digabungkan dalam Propinsi Sumatera dengan pusat pemerintahan di Bukittinggi. Hingga akhinya pa tahun 1949 Provinsi Sumatera dibagi menjadi 3 kawasan, yaitu propinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Sumatera Tengah, meliputi Sumatera Barat, Jambi dan Riau. 

Suku Minangkabau merupakan penduduk Asli wilayah Sumatera Barat. Pada saat Perang Paderi, awal abad ke-18, suku Mandailing dan suku Batak mulai menjadi penduduk Sumatera Barat.   Juga terdapat suku Jawa sebagai Transmigrasi di Daerah Padang Gelugur, Lunang Silaut, dan Sitiung. Pada akhir 1950-an, banyak Imigran dari Suriname yang menmpati daerah Sitiung.  Sementara suku lainnya, seperti suku Tionghoa banyak menetap di Bukittinggi, Padang, dan Payakumbuh. Suku Nias dan Tamil memilih tinggal di daerah Pariaman dan Padang.

Beradasarkan Peraturan Perundangan Nomor 19 tahun 1957, propinsi Sumatera Tengah dibagi tiga, yaitu propinsi yaitu Riau, Jambi, dan Propinsi Sumatera barat.  Kerinci masuk dalam wilayah Propinsi Jambi menjadi kabupaten tersendiri. Wilayah Rokan Hulu, Kampar, dan Kuantan Singingi bergabung Propinsi Riau.

Selanjutnya, Ibukota Propinsi Sumatera Barat, yang awalnya dibukittinggi pindah ke Padang berdasarkan keputusan Gubernur Sumatera Barat tahun 1958. Dan sampai saat ini, suku Minangkabau tetap memegang kuat pepatah yang berbunyi “Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” atau “Adat yang didasari oleh hukum Islam, dan mengacu kepada Kitabullah”.

Yuk baca artikel lainnya disini.

Arsip

Tinggalkan Balasan