Provinsi Jawa Barat : Sejarah Terbentuknya

Provinsi Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Termasuk salah satu provinsi tertua dari 8 provinsi yang dibentuk saat itu. Kedelapan provinsi tersebut antara lain: Jawa Barat, Sumatera, Borneo, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil.

Jawa Barat dibentuk menjadi sebuah provinsi berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Provinsi ini memiliki jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pada tahun 2000, Provinsi Jawa Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten, yang berada di bagian barat.

Berdasarkan hasil temuan arkeologi di Anyer, menunjukkan adanya budaya logam perunggu dan besi sejak sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman Buni (Bekasi kuno) dapat ditemukan disepanjang dari Anyer sampai Cirebon. Pada abad ke-5, Jawa Barat merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunakan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).

Provinsi Jawa Barat

Saingan ekonomi dan politik Kerajaan Sunda Pada abad ke-16 adalah Kesultanan Demak. Karena pengaruh Kesultanan Demak, Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.

Karena hal tersebut, Sri Baduga Maharaja (raja Sunda saat itu), menugaskan putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis di Malaka. Tujuannya adalah mencegah jatuhnya pelabuhan Sunda Kalapa kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Pada tahun 1522, didirikan monumen batu yang disebut padrão di tepi Ci Liwung sebagai bentuk realisasi perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis.

Baca juga: Propinsi Sulawesi Barat

Perjanjian Sunda-Portugis tidak pernah dapat diwujudkan, karena pada tahun 1527 terjadi penyerangan dan pelabuhan Sunda Kelapa ditaklukkan oleh pasukan aliansi Cirebon – Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan. Perang ini berlangsung selama lima tahun dan akhirnya dibuat perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon tahun 1531.

Kerajaan Sunda, dibawah pimpinan Raja Mulya atau Prabu Surya Kencana antara tahun 1567-1579, mengalami masa suram dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, Kesultanan Banten berhasil menguasai Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Pada jaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.

Provinsi Jawa Barat

Nama Jawa Barat sudah dipakai sejak tahun 1925, kala itu Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia. Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB. Jawa Barat bergabung kembali dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Tinggalkan Balasan